Header Ads

Tunjangan guru di mata santri

Tanah airku tidak kulupakan - Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh - Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai - Engkau ku kuhargai
index google

Kemarin malam, tanpa sengaja saya membuka link yg isinya tentang penghapusan tunjangan guru profesional. Berbagai macam tanggapan pun muncul, mulai dari para pakar yg memuji kbijakan tersebut, hingga para haters yg menghujat kalut. 



Kesempatan ini dimanfaatkan dengan apik, efektif dan efisien oleh kaum oposan (meskipun rakyat sipil yang tidak berpolitik transaksional secra langsung) untuk memberikan jab, hook, bahkan uppercut terhadap pemerintah. 
Sebelum kecarut marutan semakin parah, sebagai anak bangsa asli tidak ada salahnya memberikan opini bukan?

Tidak dipungkiri, peranan guru sangat vital dalam dunia transfer ilmu, mengapa? Salah satu aplikasi hukum aksi reaksi adalah, sebuah kebenaran tidak akan pernah diketahuai tanpa adanya kesalahan atau pembenaran (tahsin dan taqrir), dalam hal ini urgensi pengendalinya adalah guru. Belum lagi jika dilihat dari kacamata santri, ada regulasi ketat yang menyatakan bahwa seorang murid "dilarang" sembarang belajar tanpa adanya guru ( Ala la tanaluu al ilma illa bisittatin .... wa irsyadi ustadzin - al imam As Syafi'iy RA ).


Menurut hemat saya, guru adalah sosok yang dianggap telah memenuhi kredibilitas dan kapabilitas dalam keilmuan, sehingga dia dituntut, ataupun secara sukarela memberikan sinergi ilmunya. Sudah barang tentu seseorang ketika menyandang gelar guru, tak perlu diragukan lagi kapabilitasnya (dengan berbagai tingkat tentunya). 


Namun di zaman modern seperti saat ini, guru beralih fungsi sebagai profesi, tak ayal korelasi keuangan pun tak bisa kita elakkan, padahal agama telah mengajarkan, ilmu bukan "barang dagangan". Hanya saja, hal ini bisa diatasi, niat dan ke ikhlasan adalah jawabnnya, dan gaji disini, kita posisikan sebagai pengganti tranportasi, atau kebutuhan lain yang tidak bisa dipenuhi ketika sedang mengajar, atau istilah pesantren disebut dengan bisyarah atau penggembira, bukan pamrih pemberian ilmu. 


Maka dari itu, kesejahteraan guru memang mutlak harus diwujudkan, bukan sebagai balas jasa, tetapi sebgai penghargaan bagi mereka yang tak lelah berjuang membebaskan insan dri kebodohan. Atau bagi guru yg "ora kambon agama", kesejahteraan ini bisa menjadi landasan keikhlasan saat proses transfer ilmu tersebut berlangsung.


Yang lebih menarik dari bahasan ini adalah, fakta bahwa realita dunia "perguruan" di negeri kita memang jauh dari sebutan sejahtera, lah kok bisa? Ambil beberapa  sampel, guru diluar jawa, atau guru guru pesantren misalnya, maka anda akan tau alasannya. Ya, ketidak merataan menjadi titik tentunya, ada guru yang bergaji berjuta juta, tpi tak sedikit juga yang hanya berpeluhkan asa.


Namun akan berbeda jawaban jika kita melihat dari sudut pandang agama, karena guru guru pesantren, dan para kyai ( yang notabenenya berlandaskan ideologis keagamaan) dari jaman baheulah sampe sekarang pun tak bergaji, beliau semua dengan ikhlas berjuang, bahkan berkorban harta dan tenaga demi putra bangsa. Lalu, masih pantaskah kita berkeluh kesah?


Salam santri nusantara.




Ditulis oleh : Azuma Muhammad

No comments:

Powered by Blogger.