Header Ads

Sudut pandang lain untuk mengenal ISIS

Index google
Nama ISIS semakin dikenal oleh dunia. Sejak Abu Bakr Al-bahgdadi mendeklarasikan diri sebagai khalifah, dunia dipenuhi dengan berbagai aksi kebrutalan yang memompa amarah setiap orang yang melihatnya. Kebencian kita atas sikap mereka seolah sengaja dirancang sendiri oleh ISIS. Dibarat, banyak hujatan yang ditujukan untuk organisasi ini, entah itu dari kalangan keluarga korban teror atupun bukan. Namun, hal yang menurut saya menarik adalah ; bukan hanya dari kalangan non islam saja yang menghujat, dari kalangan islampun dapat dipastikan akan adanya hujatan atas aksi brutal mereka.

Banyak dari kalangan islam sendiri yang berseru dengan lantang bahwa ISIS bukanlah organisasi islam, bukti-bukti atas analisis mereka membuat sebagian dari umat islam sendiri membenarkan argumen tersebut.
Namun, andaikata itu memang benar, sihir apa yang digunakan agar orang-orang yang tergabung dalam kelompok yang berjuluk ISIS itu rela melakukan bom bunuh diri dan lain sebagainnya?
Disini saya akan mengajak untuk memahami ISIS dengan mindset bahwa organisasi ini memanglah milik islam.

Lalu andai ini memanglah organisasi Islam, apa yang hendak dituju?

Dengan mengambil sudut pandang yang menyatakan bahwa ISIS adalah kelompok islam, maka saya mendapat kesimpulan bahwa tujuan ISIS adalah untuk menegakkah kekuasaan politik yang disebut khilafah, yaitu bentuk negara islam yang tidak mengenal batas-batas nasional. Dengan kata lain, visi mereka adalah membuat seluruh muka bumi ini tunduk pada satu kekuasaan politik yaitu kekuasaan negara khilafah. Namun, berdirinya negara khilafah, dalam pandangan para anggota dan pendukung ISIS, hanyalah tujuan antara saja. Yang menjadi tujuan utamanya ialah tegaknya syariat Allah di muka bumi. Mereka berpandangan bahwa selama hukum Allah belum tegak di muka bumi, keadilan belum bisa telaksana dengan sesungguhnya.

Bagi mereka, negara-negara yang selama ini sudah kita anggap negara islami -indonesia misalanya- itu belum bisa di sebut negara Islam. Sebab, negara itu belum sepenuhnya memegang hukum Allah sebagai pedoman. Banyak dari mereka yang masih mencampur adukan hukum islam dengan hukum buatan orang-orang barat. Dan hal ini sangat mereka benci.

Ini yang menjelaskan kenapa ISIS melakukan teror bukan saja di Paris, ibu kota kekafiran di dunia modern, tetapi juga di Istanbul dan Jakarta. Di mata ISIS, negara-negara seperti Indonesia bukanlah negara Muslim, melainkan negara thaghut – negara yang masih tunduk di bawah hukum kafir yang diimpor dari Barat. Karena itu, musuh ISIS bukanlah hanya negeri-negeri Barat, tetapi juga negeri-negeri yang selama ini kita kenal sebagai negeri Muslim.

Ulil Abshar Abdallah mengatakan bahwa pandangan ISIS mengenai dunia sekarang ini juga bersifat apokaliptik. Yang dimaksud dengan pandangan apokaliptik adalah pandangan yang berhubungan dengan akhirat atau hari kiamat. ISIS sepertinya mempercayai sebuah ramalan yang dikemukakan dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah.

Dalam hadis itu dinyatakan bahwa: La taqum al-sa’atu hatta yanzil al-Rumu bi al-A’maq aw bi Dabiq. Arti hadis itu: Hari kiamat tak akan datang hingga bangsa Rum (Romawi) terjun perang di kawasan A’maq atau Dabiq. Hadis ini memanglah memiliki banyak tafsiran. Dalam tafsiran ISIS, yang dimaksud bangsa Rum dalam hadis di atas itu adalah bangsa kulit putih. Mereka tak lain adalah koalisi negara-negara Barat yang sekarang berperang melawan ISIS.
ISIS tampaknya percaya, jika mereka berhasil memprovokasi negara-negara Barat untuk mengirim pasukan darat di Dabiq, sebuah kota kecil di sebelah utara Aleppo dan berbatasan dengan Turki, itulah tanda-tanda hari kiamat telah dekat, sesuai dengan ramalan dalam hadis di atas. Lalu apa hubungan antara dekatnya kiamat dengan misi mereka?

Menurut Islam -sebagaimana kita tahu mengenai tanda-tanda akhir zaman atau kiamat- kiamat bukan hanya berita tentang berakhirnya dunia namun juga menandai periode dimana keadilan yang nyaris sempurna terlaksana di muka bumi. Sebab, sebelum kiamat tiba, ada sebuah kepercayaan dalam Islam bahwa Nabi Isa akan turun kembali ke muka bumi untuk menegakkan keadilan yang sebenar-benarnya.

Karena itu, Dabiq menjadi kode penting. Sebab di sanalah akan terjadi perang maha dahsyat antara kebenaran dan kekafiran. Begitu pentingnya kata Dabiq bagi ISIS, sehingga kelompok ini menamai majalah mereka dengan Dabiq.

Ini semua asal-usulnya adalah dari penafsiran atas hadis tentang tanda-tanda hari kiamat di atas itu. Mereka memanding diri sebagai kelompok kebenaran yang bersiap-siap untuk menghadapi perang mahadahsyat melawan kejahatan.

ISIS juga berkeyakinan bahwa umat Islam memiliki kewajiban keagamaan untuk tinggal di negara yang diatur dengan hukum Islam. Negera yang dimaksud tak lain adalah negara khilafah yang sedang mereka dirikan di Irak sekarang ini. Tinggal di negeri kafir adalah tindakan dosa di mata ISIS.

Sebetulnya pandangan semacam ini bukanlah khas ISIS saja. Beberapa ulama Wahabi di Saudi Arabia sudah mendahului mereka dengan mengeluarkan fatwa bahwa haram hukumnya bagi umat Islam untuk tinggal di negeri kafir (negeri Barat, misalnya). Sebab tak ada jaminan bahwa seorang Muslim yang tinggal di negeri kafir tak akan terpengaruh oleh kultur orang-orang kafir itu, dan akhirnya merusak akidah mereka sendiri (maksudnya: umat Islam).
Karena itu, doktrin hijrah sangat penting bagi ISIS. Hijrah artinya pindah dari negeri kafir ke ke negeri Islam. Inilah yang menjelaskan kenapa ISIS melakukan kampanye agresif agar umat Islam pindah dan bergabung dengan mereka di Syria dan Iraq. 

Hal ini juga membuat kita sedikit tahu, bahwa teror yang dilakukan di negara barat itu juga memiliki alasan tersendiri. Yaitu agar umat muslim menjadi bahan cemoohan yang akhirnya membuat mereka jera dan melakukan hijrah dari negara kafir ke negara islam yaitu negara yang sedang dibuat mereka di Syiria dan iraq sana. 

Dengan ulasan ini kita akan memiliki pandangan yang sedikit beda mengenai ISIS. Dapat kita lihat betapa kuat iman mereka atas apa yang menjadi keyakinan bagi mereka. Jangankan cacian dan cemoohan, matipun mereka rela demi membela keyakinannya. Disinilah pelajaran yang dapat kita ambil. Silahkan anda mencaci dan membenci, namun ada satu hal yang hendaknya kita tahu dalam menghadapi perbedaan ; "Saya mengutuk atas apa yang dilakukan ISIS, namun saya bisa memahami mengapa mereka melakukannya" - Kareen Amstrong

Artinya, Kita haruslah memahami dulu alasan suatu hal sebelum kita membecinya, apalagi menyukainya. Semoga bermanfaat




No comments:

Powered by Blogger.