Moral generasi muda indonesia yang semakin hancur ?
PULUHAN SISWA HENDAK MENGKEROYOK GURU DIGAGALKAN POLSEK BOROBUDUR RESOR MAGELANG.Sekonyong konyong saya mengambil rokok lalu saya nyalakan, berharap jika kepala saya memang benar tidak error. Pertanyaan besarpun melintas dibenak saya, mata sayakah yang kurang permana atau memang dunia yang sudah mulai kewolak walik?
Bagaimana bisa seorang murid, siswa, peserta didik (atau apalah namanya) melakukan hal seperti itu? Bahkan meskipun itu hanyalah sebuah rencanapun saya tetap tak bisa membayangkannya. Inilah yang seharusnya kita pikirkan bersama bagaimana solusi kedepannya untuk mensterilkan generasi muda kita. Sudah saatnya kita coffe break sejenak untuk memikirkan masalah ini - yang jauh lebih urgen -, dan debat kusir kita tentang persoalan persoalan kemarin kita panding, barang sehari saja.
Dewasa ini, mental tempe generasi kita kian memperihatinkan. Pertanyaannya, dari mana sumber kebobrokan ini? Pergaulankah, teknologikah, lingkungankah, pendidikankah, atau bagaimana?
Mari coba kita sedikit urai.
Bicara masalah mental mutlak tidak bisa dipisahkan dari peran orang tua dan kekuatan spiritual. Dua lini ini lah yang menjadi faktor utama dalam membentuk arah mental seseorang. Orang tua menjadi penopang awal yang menggerakkan kemana arah kepribadian seorang anak, karena posisinya sebagai contoh utama yang akan anak ikuti.
Usia emas anak (1-5 tahun) menjadi kunci pokok pembentukan kepridaian seorang anak. Akankah seorang anak menjadi lemah lembut, arogan, kasih sayang, tangguh, pengecut, semua itu dibentuk mulai usia usia ini, tentunya berdasarkan peran uswah orang tua. Masalahnya, tidak sedikit orang tua yang lalai akan hal ini, bahkan acuh. Sudah barang tentu seharusnya pada usia ini orang tua menanamkan prinsip prinsip dasar kemanusian, kasih sayang, pun spiritual.
Hanya saja, orang tua saat ini lebih bangga ketika melihat sikecilnya mengotak atik gadget, menyanyi lagu dewasa, dan sebagainya. Pola pikir seperti inilah yang harus sedini mungkin diubah oleh para orang tua.
Tak berhenti disini, masa masa peralihan dari anak anak menuju remajapun sangat riskan untuk disepelekan, karena pada usia usia ini seorang anak mulai menimbang ideologi apa yang akan dia pegang, prinsip apa yang akan dia pertahankan, juga pola pikir yang bagaimana yang akan dia aplikasikan, pun saya sendiri merasakan bagaimana carut marutnya mental saat usia transisi anak anak menuju remaja.
Nilai nilai spiritualisme mulai ditentukan kadar kekokohannya pada masa ini, maka dari itu peran orang tua, lingkungan, pergaulan, dan pendidikan sangat menentukan hasilnya. Lagi lagi, ironinya tak sedikit orang tua yang belum menyadari akan hal ini. Sebagian dari mereka membiarkan putra putranya tanpa adanya kontrol, sudah remaja dalihnya. Mereka membiarkan putra putranya berkembang tanpa nilai sepiritual, boro boro menganjurkan belajar ngaji, untuk mngingatkan sembahyang pun ogah ogahan.
Sebagian orang tua kita justu bangga ketika melihat putarnya motor motoran, hedonism, kebarat baratan, mental preman dan sebagainya, yang semua itu dipernyaman dengan jubah kekinian bertajuk gaul, ora ndeso, gak ketinggalan jaman. Namun, tidak sedikit orang tua yang memang tak berdaya menghadapi putranya karena memang sunggguh ter la lu.
So, bagaimana solusinya? Satu kata jawabannya; pesantren.
Mengapa harus pesantren?
Tidak bisa dipungkiri bahwa pesantren adalah lembaga paling komplit yang kita miliki. Mulai dari pendidikan akademis, moral, estetis, mental, spiritual, semua ada disini.
Menyoal pada kasus pengeroyokan tadi, hal ini tidak akan terjadi jika generasi kita bermental santri. Why? Karena senakal nakalnya santri mereka tetap teguh memegang prinsip ta’dzim ( yaitu sifat tunduk, patuh, menghormati kepada guru, yai, dan orang yang selayaknya dihormati). Hamdanlillah begitupun saya sebagai saksi hidup penyandang predikat santri nakal (hahaha).
Sayang, sebagian masyarakat kita masih memandang bahwa pesantren itu kuno, katrok, kampungan, hanya untuk kalangan rendahan, gak maju, dan label label miring lainnya. Padahal, tarlalu banyak bukti bahwa pesantren itu awesome! Presidaen ke-4 kita misalnya, Simbah KH. Abdurrahman Wahid beliau tumbuh besar di pesantren. Belum lagi dikalangan pengusaha seperti Bapak Dahlan Iskan (yang juga mantan mentri BUMN), penulis seperti Habiburrahman el Shirazy, ahli IT seperti Gus Bisri Mustova (Putra Simbah KH Mustafa Bisri), atau negarawan yang tak terhitung jumlahnya, yang jika contoh contoh pengisi komponen fan ilmu dari kalangan santri ditulis tidak akan cukup dalam satu buah novel.
So, jangan ragu lagi, Pondokkan putra putri Bapak/Ibu segera.
Ditulis oleh : Azuma Muhammad

No comments: