Header Ads

Imam Ghazali dan kebenaran


Imam ghazali merupakan salah satu ulama islam yang sangat berpengaruh. Karna pehaman beliau tentang berbagai disiplin ilmu, terciptalah berbagai kitab yang sangat penuh dengan kajian kajian yang bervariasi. Mulai dari tafsir, akhlaq, filsafat dan lain-lain.


Banyak hal yang membuat saya kagum dengan imam ghazali. dalam bidang logika misalnya, ada hal yang sangat membekas dalam salah satu kajian beliau dalam kitab Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge).

Secara ringkas akan saya paparkan beberapa kajian beliau tentang 'ilmu pengetahuan' yang saya harap akan berguna untuk menambah wawasan kita.

Sumber kebenaran ilmu pengetahuan
Dalam masalah ilmu pengetahuan, Imam ghazali mengklarifikasikan sumber kebenaran dalam 3 hal. yaitu indra, akal, dan wahyu.

Secara ringkas, penjelasannya adalah sebagai berikut :

1. Indra
Indra merupakan salah satu sumber untuk mencari kebenaran. dengan fungsi indra-indra lahiriah seperti melihat, mendengar, meraba, mencium, dan merasa maka akan didapat suatu jenis pengenalan dan pemahaman kebenaran yang bersifat fisik.
Kaum yang berpaham empirisme sangat mementingkan indra dalam tolok ukur kebenaran, mereka tidak akan percaya bahwa sesuatu itu benar sebelum dapat dibuktikan dengan pengalamam indrawi.

Namun, menurut imam ghazali indra dapat menipu kita dalam mencari kebenaran. Ketika melihat bintang misalnya, jika kita hanya menggunakan indra pengelihatan maka kebenaran yang didapat adalah bahwa bintang merupakan bintik-bintik kecil yang bersinar dilangit. Hal itulah yang disebut imam ghazali sebagai penipuan. Maka kita butuh sumber kedua dalam mencari kebenaran.

2. Akal
Dengan akal kita dapat membuktikan bahwa bintang bukanlah hanya bintik kecil. kebenaran bahwa bintang memiliki ukuran yang bahkan lebih besar daripada bumi akan bisa dibuktikan dengan akal manusia. Ke'tidak percayaan manusia terhadap indra'lah yang memancing para ilmuan menciptakan teknologi modern seperti teleskop dan lain sebagainya untuk mencari kebenaran yang lebih maju.

Namun, sekali lagi imam ghazali masih mengatakan bahwa akal bukanlah segalanya. Terkadang akalpun masih menipu kita. Tidak masuk akal apabila pada jaman nabi ada orang yang mengatakan dapat berkomunikasi dengan orang yang sangat jauh tanpa harus mendekatinya. Namun, ilmu pengetahuan kini telah membuatnya menjadi masuk akal dengan adanya handphone.
Ini membuktikan bahwa ketidak percayaan terhadap akal telah membuat dunia lebih maju.

3. Wahyu
Ilmu wahyu adalah ilmu yang datang dari luar nalar, dimana ada kemampuan tertentu pada manusia yang menjadi semacam penangkap sinyal pengetahuan lebih lanjut. Bisa dibilang ilmu wahyu lah yang telah memancing ilmuan ilmuan besar seperti Albert Einstein, Alexander Graham Bell dan lain sebagainya dalam menciptakan penemuan yang ada saat ini.

Ilmu inilah yang berperan penting dalam iman seorang yang beragama. Karna ilmu ini mengajarkan bahwa akal bukanlah segalanya, banyak misteri-misteri di dunia ini yang masih belum dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Para ilmuan telah membuktikan itu dengan terus berusaha menguak misteri misteri alam. Para ahli filsafatpun juga mengakuinya. Socrates misalnya, ia adalah bapak para filsafat dunia yang pernah berkata "hanya satu hal yang aku tahu di dunia ini, yaitu bahwa aku tidak tau apa apa".

Kesimpulan yang kita dapat :

1. Imam ghazali mengajak kita untuk lebih berfikir. Ada hal-hal yang dulunya tidak masuk akal namun pada akhirnya menjadi rasional. 
Pernyataan dalam al-quran yang mengatakan bahwa bumi itu bundar tentu akan dianggap tidak masuk akal apabila yang membaca adalah orang-orang jaman dulu yang belum tahu tentang gaya gravitasi. dan lain sebagainya.

2. Tidak ada kebenaran yang mutlaq. semua itu hanya kemungkinan. Sudut pandang tentang kebenaran akan terus berubah sesuai dengan zaman. Dan inilah yang membuat para ilmuan menjadi orang yang besar. Sebab, mereka mampu menjelaskan hal yang awalnya tidak masuk akal menjadi masuk akal dengan penemuannya. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan justru diperlukan usaha untuk membuat sesuatu menjadi mungkin. Bukan malah dengan menyalahkan segala kemungkinan. 

Dalam salah satu kajian filsafat, kebenaran dianggap sebagai hasil dialektika antar dua tesis yang bertentangan. Artinya, selama dialek antar makhluk hidup itu berlanjut, maka kebenaran pun akan berkembang.

3. Dalam hubungannya dengan kitab ilahi (al-quran), hal ini akan meningkatkan iman kita terhadap apapun yang ada dalam al-quran. Karna bisa jadi, apapun yang kita anggap tidak masuk akal sekarang mungkin akan terbukti kebenaranya pada masa yang akan datang. Ketika ada hal-hal yang tidak masuk akal, itu bukan karna quran salah namun itu lebih dikarenakan ketidak siapan akal kita untuk mencerna ilmu yang dibicarakan quran. Karna pengetahuan kita jika dibandingkan dengan pengetahuan tuhan tidak lebih dari tetesan air di laut yang luas.

Semoga kita lebih bijak dalam memahami suatu kebenaran.

No comments:

Powered by Blogger.